Pola Berpikir Manusia Primitif Sampai Rasional
A. Zaman Batu Purba (4.000.000 – 10.000 SM)
Sisa-sisa budaya manusia yang dapat ditemui dari masa itu adalah
berbagai batu yang jelas dibentuk oleh manusia, kecuali batu mereka juga
menggunakan tulang binatang untuk alat, jelas dari adanya lubang pada
tulang untuk memasukkan tali seperti halnya lubang pada jarum masa kini.
Penggunaan batu sebagai alat berburu dapat
ditafsirkan bahwa manusia pada masa itu telah mampu berpikir untuk dapat
membedakan mana batu yang dapat digunakan untuk alat berburu dan mana
yang tidak, mana binatang yang enak disantap atau diburu dan mana yang
tidak. Satu langkah lebih maju dari membedakan adalah mengamati. Untuk
dapat berburu tentulah mereka mengamati kelakuan dari binatang buruannya
itu.
Manusia pada masa itu telah pandai
menggunakan alat, hal ini dapat diartikan mereka telah mampu
meningkatkan efisiensi dari alat tubuhnya sendiri untuk memenuhi
hidupnya. Pada zaman itu manusia juga telah dapat bercocok tanam atau
bertani. Tentunya mereka telah mampu untuk memilih mana pucuk tanaman
yang enak dimakan atau buah-buahan yang enak disantap. Kemampuan bertani
berarti pula bahwa mereka telah mampu untuk membuat desain ataupun
membuat rencana. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa manusia
pada zaman itu telah pandai menulis maupun berhitung. Oleh karena itu,
perkembangan pengetahuan mereka begitu lamban. Zaman ini disebut zaman
pra sejarah.
Pada zaman ini telah timbul berbagai kerajaan besar di dunia, antara lain di negeri Cina, India, Mesir, Babilonia, Athena, dan Yunani. Namun yang sangat menonjol pengaruhnya dan masih terasa sampai saat ini adalah budaya yang ditinggalkan oleh orang-orang Babilonia dari daerah Mesopotamia. Mereka ternyata telah begitu tinggi tingkat berpikirnya. Berikut ini adalah beberapa cuplikan budaya mereka untuk dapat kita simak bagaimana pola ataupun kemampuan berpikir mereka itu dalam dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Yang pertama adalah dalam bidang perbintangan. Dalam pengamatannya terhadap peredaran bintang-bintang mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa semua benda-benda angkasa itu beredar menurut garis edarnya masing-masing, dan semuanya terletak pada suatu sabuk (belt) besar yang melingkar “mengelilingi bumi” yang mereka sebut zodiak. Peredaran bintang-bintang itu dipergunakan untuk perhitungan waktu. Waktu satu tahun dihitung dari waktu yang digunakan oleh bintang itu beredar dari suatu titik sampai ke titik semula. Waktu satu bulan dihitung dengan memperhatikan peredaran bulan mengelilingi bumi dari suatu posisi sampai kembali ke posisi semula. Ternyata dalam satu tahun bulan beredar mengelilingi bumi dua belas kali jadi satu tahun sama dengan dua belas bulan.
B. Zaman Timbulnya Pola Berpikir Koheren (10.000 – 500 SM)
Pada zaman ini telah timbul berbagai kerajaan besar di dunia, antara lain di negeri Cina, India, Mesir, Babilonia, Athena, dan Yunani. Namun yang sangat menonjol pengaruhnya dan masih terasa sampai saat ini adalah budaya yang ditinggalkan oleh orang-orang Babilonia dari daerah Mesopotamia. Mereka ternyata telah begitu tinggi tingkat berpikirnya. Berikut ini adalah beberapa cuplikan budaya mereka untuk dapat kita simak bagaimana pola ataupun kemampuan berpikir mereka itu dalam dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Yang pertama adalah dalam bidang perbintangan. Dalam pengamatannya terhadap peredaran bintang-bintang mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa semua benda-benda angkasa itu beredar menurut garis edarnya masing-masing, dan semuanya terletak pada suatu sabuk (belt) besar yang melingkar “mengelilingi bumi” yang mereka sebut zodiak. Peredaran bintang-bintang itu dipergunakan untuk perhitungan waktu. Waktu satu tahun dihitung dari waktu yang digunakan oleh bintang itu beredar dari suatu titik sampai ke titik semula. Waktu satu bulan dihitung dengan memperhatikan peredaran bulan mengelilingi bumi dari suatu posisi sampai kembali ke posisi semula. Ternyata dalam satu tahun bulan beredar mengelilingi bumi dua belas kali jadi satu tahun sama dengan dua belas bulan.
Pada zaman ini telah timbul berbagai kerajaan besar di dunia, antara lain di negeri Cina, India, Mesir, Babilonia, Athena, dan Yunani. Namun yang sangat menonjol pengaruhnya dan masih terasa sampai saat ini adalah budaya yang ditinggalkan oleh orang-orang Babilonia dari daerah Mesopotamia. Mereka ternyata telah begitu tinggi tingkat berpikirnya. Berikut ini adalah beberapa cuplikan budaya mereka untuk dapat kita simak bagaimana pola ataupun kemampuan berpikir mereka itu dalam dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Yang pertama adalah dalam bidang perbintangan. Dalam pengamatannya terhadap peredaran bintang-bintang mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa semua benda-benda angkasa itu beredar menurut garis edarnya masing-masing, dan semuanya terletak pada suatu sabuk (belt) besar yang melingkar “mengelilingi bumi” yang mereka sebut zodiak. Peredaran bintang-bintang itu dipergunakan untuk perhitungan waktu. Waktu satu tahun dihitung dari waktu yang digunakan oleh bintang itu beredar dari suatu titik sampai ke titik semula. Waktu satu bulan dihitung dengan memperhatikan peredaran bulan mengelilingi bumi dari suatu posisi sampai kembali ke posisi semula. Ternyata dalam satu tahun bulan beredar mengelilingi bumi dua belas kali jadi satu tahun sama dengan dua belas bulan.
Waktu satu hari dihitung dari peredaran
matahari ‘mengelilingi bumi’ dari suatu titik ke titik semula. Dan
ternyata dalam waktu satu bulan ada tiga puluh hari. Jadi satu tahun
sama dengan tiga ratus enam puluh hari. Kenyataan-kenyataan itu membuat
orang-orang Babilonia mempunyai sistem perhitungan Matematika kombinasi
antara desimal dan hexadesimal, artinya segala perhitungan didasarkan
atas fraksi atau bagian dari enam puluh. Meskipun demikian mereka pada
akhirnya membuat koreksi berdasarkan perhitungan matematika yang tepat.
Mereka berkesimpulan bahwa satu tahun sama dengan 365,25 hari.
Dari kerajaan Mesir pada masa itu
didapatkan sisa-sisa kebudayaan yang menunjukkan bahwa mereka juga telah
pandai tulis baca serta matematika. Tulisannya didasarkan atas abjad
dengan tanda-tanda bunyi yang kita kenal sebagai huruf hieroglif. Dalam
bidang matematika orang Mesir telah mengenal bilangan phi untuk
menghitung luas suatu lingkaran. Mereka membagi hari menjadi dua bagian
yaitu siang dan malam yang masing-masing dibagi menjadi dua belas jam.
Terdapatnya pula peninggalan jam matahari yang didasarkan atas panjang
bayang-bayang tongkat.
Dari
negeri Cina ada dua hal yang menarik yaitu tulisannya yang didasarkan
atas gambar-gambar. Dan juga tentang mesin hitung berupa abacus yang
mungkin merupakan kalkulator tertua di dunia yang ternyata masih
digunakan sampai saat ini. Dari kenyataan-kenyataan tersebut di atas
dapat kita simpulkan bahwa pada 1500 SM orang telah mampu berpikir
abstrak.
Baik orang Babilonia maupun Mesir percaya kepada adanya dewa-dewa artinya mereka percaya ada suatu kekuatan gaib di luar jangkauan pengalaman yang nyata. Ini berarti pikirannya telah jauh melampaui batas pengalamannya. Pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman, pemikiran, dan kepercayaan semacam itu kita sebut mitos.
Baik orang Babilonia maupun Mesir percaya kepada adanya dewa-dewa artinya mereka percaya ada suatu kekuatan gaib di luar jangkauan pengalaman yang nyata. Ini berarti pikirannya telah jauh melampaui batas pengalamannya. Pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman, pemikiran, dan kepercayaan semacam itu kita sebut mitos.
C. Zaman Timbulnya Pola Berpikir Rasional (600 SM – 200 M)
Zaman ini dikenal sebagai zaman Yunani oleh karena ajaran-ajaran atau pola berpikir orang Yunanilah yang paling dominan pada saat itu. Ciri perbedaan yang khas antara pola berpikir orang-orang Babilonia dengan orang-orang Yunani adalah dalam hal menetapkan kebenaran. Orang Yunani menggunakan rasional atau akal sehat dengan metode deduksi. Sedangkan orang Babilonia memasukkan unsur kepercayaan di dalam mencari kebenaran.
Seorang ahli pikir bangsa Yunani bernama Thales (624 – 565 SM) seorang astronom yang juga ahli di bidang matematika dan teknik. Ialah yang pertama kali berpendapat bahwa bintang-bintang mengeluarkan sinarnya sendiri sedangkan bulan hanya sekedar memantulkan cahayanya dari matahari. Dialah orang pertama yang mempertanyakan asal-usul dari semua benda yang kita lihat di alam raya ini. Ia berpendapat bahwa adanya beraneka ragam benda-benda di alam sebenarnya merupakan gejala alam saja bahan dasarnya amat sederhana.
Zaman ini dikenal sebagai zaman Yunani oleh karena ajaran-ajaran atau pola berpikir orang Yunanilah yang paling dominan pada saat itu. Ciri perbedaan yang khas antara pola berpikir orang-orang Babilonia dengan orang-orang Yunani adalah dalam hal menetapkan kebenaran. Orang Yunani menggunakan rasional atau akal sehat dengan metode deduksi. Sedangkan orang Babilonia memasukkan unsur kepercayaan di dalam mencari kebenaran.
Seorang ahli pikir bangsa Yunani bernama Thales (624 – 565 SM) seorang astronom yang juga ahli di bidang matematika dan teknik. Ialah yang pertama kali berpendapat bahwa bintang-bintang mengeluarkan sinarnya sendiri sedangkan bulan hanya sekedar memantulkan cahayanya dari matahari. Dialah orang pertama yang mempertanyakan asal-usul dari semua benda yang kita lihat di alam raya ini. Ia berpendapat bahwa adanya beraneka ragam benda-benda di alam sebenarnya merupakan gejala alam saja bahan dasarnya amat sederhana.
Pendapat tersebut merupakan perubahan
besar dari alam pikiran manusia masa itu. Pada masa itu, orang-orang
beranggapan bahwa aneka ragam benda di alam itu diciptakan oleh
dewa-dewa seperti apa adanya. Karena kemampuan berpikir manusia makin
maju dan disertai pula oleh perlengkapan pengamatan, misalnya berupa
teropong bintang yang makin sempurna, maka mitos dengan berbagai
legendanya makin ditinggalkan orang. Mereka cenderung menggunakan akal
sehatnya atau rasionya.
Orang-orang Yunani yang patut dicatat
sebagai pemberi iuran kepada perubahan pola berpikir masa itu adalah
Anaximander (610 – 547 SM) seorang pemikir kontemporer, ia adalah murid
Thales. Juga Anaximenes (585 – 528 SM), Herakleitos (540 – 480 SM), dan
Pythagoras (540 SM). Pythagoras terkenal di bidang matematika. Salah
satu temuannya yang terpakai sampai sekarang adalah ‘dalil pythagoras’
tentang segitiga siku-siku, yaitu: “Kuadrat panjang sisi miring sebuah
segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi
siku-sikunya”. Pernyataan yang lain tentang segitiga oleh pithagoras
adalah bahwa jumlah sudut suatu segitiga adalah 180o.
Yang lainnya adalah Demokritos (460 –
370 SM), Empedokles (480 – 430 SM), Plato (427 – 347 SM), dan
Aristoteles (348 – 322 SM). Aristoteles merupakan pemikir terbesar pada
zamannya. Ia membukukan intisari dari ajaran orang-orang sebelumnya. Ia
membuang hal-hal yang tidak masuk diakalnya dan menambahkan
pendapat-pendapatnya sendiri. Ajaran Aristoteles yang penting adalah
suatu pola berpikir dalam memperoleh kebenaran berdasarkan logika.
Orang besar 450 tahun setelah Aristoteles adalah Ptolomeus (127 – 151 SM). Pendapatnya yang patut dicatat ialah bahwa bumi adalah pusat jagat raya, berbentuk bulat, diam, setimbang tanpa tiang penyangga. Bintang-bintang menempel pada langit dan berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam. Planet beredar melalui garis edarnya sendiri dan terletak antara bumi dan bintang.
Bila kita renungkan pola berpikir bangsa Yunani, lalu kita bandingkan dengan pola berpikir orang Babilonia, maka nampak ada perubahan yang mendasar yaitu mulai terpisahnya ‘kepercayaan’ dari ‘ilmu pengetahuan’. Bangsa Yunani bukan tidak percaya pada adanya dewa-dewa tetapi mereka tidak mencampuradukkan dalam khasanah pengetahuan yang mereka sebut ‘philosophia’ itu.
SUMBER : http://rudy-unesa.blogspot.com/2010/12/sejarah-pola-berpikir-manusia-primitif.html
Orang besar 450 tahun setelah Aristoteles adalah Ptolomeus (127 – 151 SM). Pendapatnya yang patut dicatat ialah bahwa bumi adalah pusat jagat raya, berbentuk bulat, diam, setimbang tanpa tiang penyangga. Bintang-bintang menempel pada langit dan berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam. Planet beredar melalui garis edarnya sendiri dan terletak antara bumi dan bintang.
Bila kita renungkan pola berpikir bangsa Yunani, lalu kita bandingkan dengan pola berpikir orang Babilonia, maka nampak ada perubahan yang mendasar yaitu mulai terpisahnya ‘kepercayaan’ dari ‘ilmu pengetahuan’. Bangsa Yunani bukan tidak percaya pada adanya dewa-dewa tetapi mereka tidak mencampuradukkan dalam khasanah pengetahuan yang mereka sebut ‘philosophia’ itu.
SUMBER : http://rudy-unesa.blogspot.com/2010/12/sejarah-pola-berpikir-manusia-primitif.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar